November 17, 2013

Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Nurcholish Madjid


Seperti yang kita ketahui, pendidikan Islam bertujuan unuk mencapai tujuan akhir. Tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim. Yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, aspek-aspek kepribadian itu dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu : Aspek kejasmanian, aspek kejiwaan dan aspek kerohanian. [1]Aspek kepribadian tersebut dinyatakan o;eh Nurcholish Madjid pada tawhid sebagai pokok ajaran Islam.
Tawhid sebagai pokok ajaran Islam ialah sikap pasrah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa sikap pasrah itu suatu keyakinan keagamaan akan tidak memiliki kesejatian. Maka agama yang benar di sisi Tuhan Yang Maha Esa ialah sikap pasrah yang tulus kepada-Nya itu, yaitu dalam istilah al-Qur’an, al-Islam.[2]
Pendidikan menurut Nurcholish Madjid diarahkan pada sikap pasrah kepada Allah. Dari sikap pasrah kepada Allah, manusia secara pribadi diajarkan bahwa segala kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dan semua yang diberikan oleh Tuhan merupakan suatu amanat yang nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya secara pribadi dihadapan-Nya.
Setiap pribadi harus menyadari bahwa tidak ada sedikit pun kemungkinan baginya mendelegasikan pertanggung jawaban itu kepada orang lain, termasuk kepada orang tua, anak, kawan, dan pemimpin. Ini merupakan pangkal makna kemasyrakatan keyakinan agama atau iman. Sebab sikap pribadi yang penuh tangung jawab kepada Allah akakn dengan sendirinya melimpah dan mewujud nyata dalam sikap penuh tanggung jawab sesama manusia atau masyarakat, bahkan kepada seluruh makhluk.[3]
Dari sikap pasrah yang tulus kepada Allah tersebut menghasilkan salam yang berartikan kedamaian. Sikap salam merupakan kelanjutan sikap rela (ridlo) kepada Allah atas segala keputusan-Nya yang telah terjadi pada hisup kita, hamba-Nya, serta kelanjutan sikap bersandar (tawaqul, “tawakal) kepada-Nya atas usaha dan ikhtiar kita untuk kehidupan di masa mendatang. Dengan sikap rela kepada Allah itu maka kedamaian atau salam itu menjadi sempurna.[4]
Sikap salam di atas dalam makna kemasyarakatan bertumpu pada pembinaan kesentosaan (salamah) jiwa pribadi. Sebagai pusat atau inti kepribadian seseorang, jiwa dengan segala kualitas yang dipunyainya tentu akan menyatakan diri dalam tingkah laku lahiriah. Apalagi jika suatu kesentosaan batin adalah suatu kebaikan tidak berada dalam suatu kevakuman (melainkan ada dalam konteks interaksi antara sesama manusia dan bahkan sesama ciptaan Tuhan dalam arti seluas-luasnya), maka perolehan spiritual pribadi akibat adanya iman yang benar, sikap pasrah yang tulus (al-Islam), ridlo dan tawakal kepada Allah serta ingat (dzikir) kepad-Nya, tidak bisa tidak melahirkan berbagai konsekuensi tingkah laku mewujud dalam kerangka kehidupan sosial.[5]
Semua sikap di atas merupakan harapan bagi terwujudnya pribadi yang mempunyai tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah, yang merupakan suatu wujud dari amal saleh. Dalam arti yang seluas-luasnya, amal saleh ialah setiap tingkah laku pribadi yang menunjang usaha mewujudkan tatanan hidup sosial yang teratur dan berkesopanan. Maka salah satu yang diharapkan dari adanya iman dalam dada (pribadi) ialah wujud nyata dalam tindakan yang berdimensi sosial. Tanpa wujud nyata itu maka suatu pengakuan keimanan harus diletakan dalam pertanyaan besar tingkat kesejatiannya.[6]
Dimensi sosial keimanan itu juga dinyatakan dalam berbagai ungkapan yang lain. Salah satunya ialah ungkapan islah (usaha perbaikan, reform), khususnya dalam suatu rangkaian, ungkapan islah al-ardl (baca: islahul ardl, “reformasi dunia”, yakni usaha perbaikan tempat hidup manusia). Secara historis, tampilnya para nabi memang selalu ditandai oleh perjuangan melancarkan reformasi dunia, dengan perjuangan melawan kezaliman sebagai salah satu wujudnya yang paling menonjol.[7]
Pendidikan Islam yang pokok ajarannya berpangkal pada tawhid, yang telah di jabarkan di atas oleh Nurcholish Madjid merupakan suatu upaya untuk mewujudkan tatanan hidup masyrakat yang bernuansakan ketuhanan yang penuh dengan kedamaian dan sikap kebersamaan terhadap sesama yang berujung pada sikap-sikap pasrah kepada Allah sebagai wujud al-Islam, sikap penuh dengan kedamaian dan kerelaan yang merupakan wujud dari sikap salam dan sikap perubahan diri ke-arah perbaikan dalam kehidupan masyarakat dengan wujud islah di dalamnya.
Demikian itu pemikiran Nurcholish Madjid terhadap pendidikan Islam, bagaimana pendidikan tersebut dapat di arahkan pada realisasi ajaran-ajaran Islam yang pada dasarnya bukan hanya dalam segi ubudiyah saja pendidikan Islam itu berjalan, melainkan juga dalam segi asasi. Seperti yang telah dijelaskan di atas tentang ajaran yang bersifat asasi tersebut pembahasannya meliputi tiga masalah utama yaitu Ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman.


[1]  Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, “Filsafat Pendidikan Islam”, (Bandung, Pustaka Setia: 2007), hal. 69
[2]  Nurcholish Madjid, “Islam Doktrin Dan Peradaban (Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan)", (Jakarta, Paramadina: 2005), hal. 345.

Read-More->>>....

Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Pendidikan Islam


Pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperi buku-buku yang di ajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, melainkan sebagai intelektualisme Islam karena baginya hal inilah yang di maksud dengan esensi pendidikan tinggi Islam. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai, dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah pendidikan Islam.[1]
Pendidikan Islam dapat mencakup dua pengertian besar. Pertama, pendidikan Islam dalam pengertian praktis, yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia Islam seperti yang dilaksanakan di Pakistan, Mesir, Sudan, Saudi, Iran, Turki, Maroko, dan sebagainya, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Untuk konteks Indonesia, meliputi pendidikan di pesantren, di madrasah, (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah), dan di perguruan tinggi Islam, bahkan bisa juga pendidikan agama Islam di sekolah (sejak dari dasar sampai lanjutan atas) dan pendidikan agama Islam di perguruan tinggi umum.[2] Kedua, pendidikan tinggi Islam yang di sebut dengan intlektualisme Islam.[3] Lebih dari itu, pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat juga difahami sebagai proses untuk menghasilkan mausia (Ilmuwan) integratif, dinamis, inovatif, progresif, adil, jujur, dan sebagainya. Ilmuwan yang demikian itu diharapkan dapat memberikan alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi oleh umat manusia.
Dengan mendasarkan pada al-Qur’an, tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif, yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia.[4]
Pendidikan Islam mulai abad pertengahan, menurut Fazlur Rahman, dilaksanakan dengan mekanis. Oleh karena itu, pendidikan Islam lebih cenderung pada aspek kognitif dari pada aspek efektif dan psikomotor. Strategi pendidikan Islam yang ada sekarang, menurut  Rahman, bersifat defenisif, yaitu untuk menyelamatkan kaum muslimin dari pencemaran atau kerusakan yang di timbulkan oleh dampak  gagasan-gagasan barat yang datang melalui berbagai disiplin ilmu, trutama gagasan-gagasan yang akan mengancam akan rusaknya standar-standar moralitas tradisional Islam.[5]
Pendidikan Islam menghadapi problem. Dalam artikelnya yang berjudul “The Qur’anic Solution of Pakistan’s Education Problems” di sebutkan problem-problem pendidikan meliputi problem idiologis, dualism, dalam sistem pendidikan, bahasa, dan problem metode pembelajaran.
Mengenai problem pertama menjelaskan, Orang-orang Islam mempunyai problem idiologis. Mereka tidak mengkaitkan secara efektif pentingnya pengetahuan dengan orentasi idiologinya. Akibatnya, masarakat muslim tidak di dorong untuk belajar. Tampaknya, mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Secara umum, terhadap kegagalan dalam mengkaitkan prestasi pendidikan umat Islam dengan amanah idiologi mereka. Masyarakat tidak sadar bahwa mereka berada di bawah perintah moral kewajiban Islam untuk menuntut ilmu pengetahuan.[6]
Mengenai problem kedua menjelaskan. Yang terkait erat dengan pertama adalah bencana besar umat Islam dengan adanya dualisme, dikotomi dalam sistem pendidikan. Pada satu sisi disebut dengan sistem pendidikan “ulama” yang dilaksanakan dimadrasah. Begitu tertinggal sehingga sekarang hasilnya betul-betul mengecewakan. Produk dari sistem ini, menurut  Rahman, tidak dapat hidup didunia modern dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum dan silabinya harus diubah secara radikal dan mendasar agar dapat bersaing dalam kehidupan modern. Prinsip-prinsip dasar ilmu sosial, world view sain modern dan pengantar sejarah dunia, bersama-sama dengan ilmu-ilmu humaniora modern, harus dimasukkan pada silabi untuk menambah disiplin-disiplin sepesialis agama. Namun, penting juga dipahami tentang kenyataan bahwa sistem pendidikan modern masyarakat Islam yang dilaksanakan diuniversitas-universitas telah berkembang sama sekali tanpa menyentuh idiologi dan nilai-nilai sosial serta budaya Islam. Mahasiswa tidak terinspirasi sama sekali dengan cita-cita yang mulia. Hasil tragisnya adalah bahwa standar pendidikan kita memburuk dan, dibawah pengaruh secara tiba-tiba dari perkembangan ekonomi, bahkan dasar minimal dari rasa jujur dan tanggung jawab tidak muncul. Maka, kedua sistem pendidikan ini tersakiti oleh bentuk-bentuk fragmentasi yang paling jelek. Hal inilah yang menuntut perhatian segera.[7]
Lebih lanjut Fazlur Rahman menjelaskan akibat dari kondisi ini, yakni pencarian pengetahuan umat Islam secara umum sia-sia, pasif dan tidak kreatif. Sistem madrasah yang tidak asli dan kreatif itu menjadi paten. Namun sayang, sistem pendidikan modern di dunia Islam pun juga begitu. Sekarang umat Islam sedang berda pada abad pendidikan modern, dan cara belajar mereka belum mampu menambah nilai orisinalitas dan investasi nilai ilmu pengetahuan kemanusiaan. Terutama pada ilmu humaniora dan ilmu-ilmu sosial, kualitas sarjana muslim betul-betul rendah. Jika umat Islam tidak menghasilka pemikir yang berkualitas bagus dalam humaniora dan ilmu-ilmu sosial, mereka tidak dapat berharap mampu memberikan kontribusi yang berharga sekalipun pada ilmu-ilmu murni. Karena itu, ilmu-ilmu murni tidak dapat di tanamkan pada ruangan kosong dan terpisah dari ilmu-ilmu yang lain.[8]
Mengenai problem ketiga, Rahman menjelaskan terkait dengan itu ada problem lain yang sama pentingnya, yaitu problem bahasa. Problem bahasa selalu terkait dengan pendidikan tinggi dan pemikiran. Kita ini di ibaratkan sebagai masarakat muslim tanpa bahasa. Pada hal konsep-konsep murni tidak pernah muncul dalam pikiran kecuali di lahirkan dengan kata-kata (bahasa). Jika tidak ada kata-kata (karena tidak ada bahasa yang memadai ), konsep-konsep yang bermutu tidak akan muncul. Akibatnya, peniruan dan pengulangan seperti halnya burung beo adalah bukan pemikiran orisinal. Kontraversi bahasa yang sering di kemukakan, hendaknya di pisahkan dari emosionalisme politik, dan umat Islam sekarang harus mengembangkan satu bahasa secara memadai dan cepat karena mereka berpacu dengan waktu. Kemajuan dunia tidak akan berhenti menanti mereka, dan tidak memiliki alas an husus untuk memalumi ketinggalan mereka.[9] 
Lebih lanjut Rahman memberikan contoh khusus di Pakistan, yakni jika umat Islam di Pakistan tetap bertujuan sebagai satu bangsa, mereka tertentut untuk memiliki satu bahasa. Begitu memiliki keputusan satu bahasa itu, mereka harus mengembagkannya dengan baik dan tanpa membuang waktu dengan sia-sia. Kemudian, mereka mewajibkan diri mereka sendiri untuk berfikir, menulis, dan membaca dengan bahasa itu. Rahman mengakui bahwa, selama ini, ia mempunyai pikiran yang berharga di tulis dalam bahasa inggris. Akan tetapi, sebagai seorang nasionalis, sampai sekarang ia masih menganggap bahasa inggris sebagai bahas asing.walaupun demikian, mereka juga belum belum dapat mengembangkan bahasa urdu maupun bahasa Bengali yang semestinya secara tulus dan mendesak kedua bahasa itu pantas di kembangkan. Kedua bahasa itu mempunyai sejarah dan sasrta dan tentu saja mempunyai potensi untuk berkembang yaitu bahas urdu mempunyai kelebihan terkait erat dengan tradisi masa lalu mereka.akan tetapi, isu bahasa itu sayngnya menjadi subjek perdebatan emosional politis. Ketika mereka berdebat, pikran mereka tentu saja membusuk padahal seharusnya mereka menjdi pemikir yang bermutu dan kreatif.
Peniruan terma-terma dan prase-prase bagikan burung beo masih menjadi dasar metodologi pendidikan Islam sebagai konsekwensi logis dari ketidak punyaan bahasa yang mampu mengekspresikan proses pemikiran yang kokoh. Sayangnya, sebagian mereka berasal dari warisan sistem pendidikan madrasah. Selam beberapa abad lalu, pendidikan madrasah cendrung berkonsentrasi pada buku-buku dari pada subjek. Anak-anak di ajari belajar dengan menghafal, bukan menolah pikiran secara kreatif. Sehubungan dengan praktik ini, pertumbuhan konsep akan menjadi rusak. Pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang kreatif, melainkan sesuatu yang di peroleh. Hal-hal “ada”, baik di dalam buku-buku maupun pada pikiran pikiran guru telah di peroleh dan tersimpan lama. Inilah yang di sebut ”ilmu”. Telah banyak di tunjukan bahwa konsep ini secara diametris bertentangan dengan pandangan pengetahuan sebagai sesuatu pertumbuhan yang terus menerus di anjurkan oleh Al-Qur’an. Tragedi itu terjadi juga pada lembaga-lembaga pendidikan modern Islam, yaitu belajar dengan menghafal secara besar-besaran di peraktikan dan pengajaran buku-buku teks serta pelaksanaan ujian secara terus menerus memperihatinkan.[10]
Dari uraian di atas Rahman memberi gambaran pendidikan di lingkungan umat Islam pada era abad pertengahan dan pra modern sebagai berikut, kelemahan pokok yang di rasakan dalam proses pembelajaran di linkungan masarakat muslim pada abad pertengahan, juga pada masa pra modern, adalah konsepsi mereka tentang pengetahuan (knowledge). Bertolak belakang dengan sikap dan cara berfikir keilmuan era modern, mereka memandang bahwa pengetahuan sebagai sesuatu yang pada dasarnya harus di cari dan di temukan atau di bangun secara sitematis oleh akal pikiran manusia sendiri. Dengan mengandalkan peran akal pikiran manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sikap keilmuan abad pertengahan menekankan kenyataan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang “yang di peroleh”. Sikap dan posisi akal pikiran lebih bersifat pasif dan reseptif dari pada bersifat kreatif dan positif. Di dunia muslim, konsepsi dan mentalitas cara berfikir yang bertolak belakang ini menjadi lebih akut lagi lantaran karna adanya bentuk ilmu pengetahuan yang di transmisikan begitu saja atau juga sering di sebut pengetahuan “tradisional” yang di dasarkan pada penukilan dan pendengaran di satu pihak, konsep pengetahuan yang bersifat “rational” dilain pihak.[11]
Di samping itu, Rahman mengutip apa yang dikatakan oleh Sibli nu’mani dan Muhamad Abduh. Menurut nu’mani, para mahasiswa yang telah lama belajar di Dar al-ulum Cairo, telah dikenalkan pada sistem pendidikan barat modern. Meskipun pemikiran mereka tetap tidak dapat mengintregasikannya. Abduh menyesalkan hal yang sama di Al-Azhar Cairo. Dilemma ini menjadi ciri utama pendidikan di dunia Islam yang mengembangkan pendidikan tradisional dengan mengadopsi sistem pendidikan barat modern. Setiap upaya untuk menghilangkan dikotomi ini dan memadukannya secra murni tidak pernah dapat mendatangkan hasil sebagaimana yang di harapkan.[12] Rahman juga menjelaskan bahwa sekarang siswa-siswa yang tertarik pada pendidikan Islam hanya mereka yang tidak di terima pada bidang-bidang yang basah.[13]
Setelah kita mengetahui pemikiran Rahman, dapat di ketahui bahawa Rahman adalah tokoh yang pemikirannya di kategorikan sebagai neo modernisme Islam. Pola pemikiran yang menggabungkan dua factor penting, yakni modernism dan tradisionalisme. Modernisme menurut Rahman bukanlah suatu yang harus di tolak, melainkan dengan modernisme bukan pula berarti alam pemikiran tradisionalisme harus di kesampingkan. Dalam beberapa hal, bahkan kedua alam pemikiran ini bisa bisa berjalan seiring.

Referensi


[1] Fazlur Rahman,Islam and Modernity: Trasformational of an Intlektual Tradition, The University of Chicago press, Chicago, 1982, hlm. 1. Dalam Sutrisno, Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I., 2006) hlm. 170
[2] Untuk pengertian pendidikan semacam ini jelas sekali pada karya-karyanya, seperti dalam buku Islam halaman 181-192, dalam buku Islam and modernity: transformation of and intelektual tradition, dan dalam artikel yang berjudul “the Qur’anic solution of Pakistan’s educational problems”
[3] Untuk pengertian seperti ini dapat pula di lihat pada buku Islam and Modernity: Transformation of an Inteletual Tradition, terutama hlm. 151-162. Dalam Sutrisno, Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I., 2006) hlm. 170
[4] Fazlur Rahman untuk pengertian ini dapat pula di lihat pada buku Islam and modernity : Transformation of an Intelektual Tradition, terutama hlm. 151-162 Dalam Sutrisno, ibid hlm. 171

[5] Fazlur Rahman, Islam and Modernity hlm. 86 Dalam Sutrisno, ibid hlm. 171
[6] Fazlur Rahman The Qur’anic solution,hlm. 320-321 Dalam Sutrisno, ibid hlm. 173

[7] Ibid. Dalam Sutrisno, Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I., 2006) hlm. 174

[8] Ibid. Dalam Sutrisno, Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I., 2006) hlm. 174
[9] Ibid. hlm. 32 Dalam Sutrisno, ibid  hlm. 175

[10] Ibid hlm. 322-323 Dalam Sutrisno, Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I., 2006) hlm. 176

[11] Fazlur Rahman Islam hlm.191 Dalam Sutrisno, ibid  hlm. 177
[12] Fazlur Rahman, Islam and Modernity,hlm. 130. Dalam Sutrisno, ibid hlm. 177
[13] Ibid. hlm. 139. Dalam Sutrisno,ibid hlm. 177

Read-More->>>....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...